Dalam rinai turunnya Hujan


Hujan masih belum berhenti, titik-titik air kini menjelma seakan butiran-butiran kristal yang menghiasi hamparan dunia. Ia kembali datang setelah hampir beberapa pekan lamanya ia tak kunjung tiba. Matahari pagi entah di mana kini ia bersembunyi, sejak shubuh tadi memang ibu kota diselimuti oleh dinginnya suasana. Embun yang biasanya tersipu dan dengan cepat berlalu, berganti karena hangatnya suasana, kini bertengger kokoh di kedinginan cakrawala.
Dari balik jendela, aku melepaskan pandang jauh ke arah sana, arah di mana sebuah tanah lapang terhampar di ujung sana. Beberapa anak kecil masih dengan asyiknya berlari, dan mengejar sebuah bola putih yang kini telah bercampur dengan coklatnya tanah lapang.
Sesekali masih terdengar olehku, sorak sorai mereka ketika berhasil memasukkan bola tersebut ke gawang lapang. Mereka tersenyum, dan akupun tersenyum.
Tanah-tanah itu kini berganti basah, setelah dengan rengkuhnya meneguk tetes-tetes air hujan. Bagaikan iringan -iringan kafilah yang kehausan di tengah padang sahara, kemudian menemukan sebuah mata air yang memancar dan kemudian mempersembahkan kesegaran bagi jiwa-jiwa yang dahaga.
Ingatanku memutar ulang pada masa itu, masa di mana aku berada di antara mereka yang juga sedang berada dalam dahaga serta kehausan dalam menantikan kesejukan iman. Saat itu, ta'lim-ta'lim di pelbagai majelis menjadi bagian dari untaian agenda mingguan kami.
Masih terdengar jelas ditelingaku saat itu, ketika seorang lelaki setengah baya dengan sorban putihnya yang melingkar di atas kepalanya, serta dibalut dengan pakaian serba putih pula membungkus hampir seluruh tubuhnya berujar pada kami.
"Lihatlah tanah itu, begitu kering dan kerontang, menantikan hujan yang entah kapan akan datang. Mereka bagaikan jiwa-jiwa muda dari hamparan ummat ini, yang kini bertebar diseluruh jagat raya, menantikan guyuran-guyuran serta beningnya cahaya Islam, yang akan menjadikan mereka kembali merasakan kesejukan iman", ucapnya saat itu.
Sejenak ia menarik nafas panjang. Sementara kami hanya terdiam saat itu.
"Ketika nanti hujan itu telah tiba, dengan segera tanah-tanah itu mereguknya dalam suka cita, lalu... sesaat kemudian tanah itu menjadi kembali sejuk dan daripadanya tumbuh subur berbagai macam karunia Alloh. Begitulah kiranya pula ummat yang mau menerima apa yang disampaikan Alloh dalam wahyu-wahyu-Nya melalui para rasul-Nya."
"Namun, coba antum lihat kesebelah sana, di mana hamparan tembok kini telah menutupi sebagian tanah lapang disebelah sana", katanya sambil menunjuk jauh arah sebelah kiri tempat kami sekarang berada.
"Andaikan hujan datang, dan membasahinya, maka dengan angkuhnya tembok-tembok itu menepis keberadaanya, membiarkan tetes-tetes air hujan tersebut pergi dan berlalu dengan hampa. Tak berbekas, dan tak pula sanggup membasahinya hingga memberikan kesejukan daripadanya. Apalagi sampai membuatnya subur dan tumbuh bermacam karunia Alloh padanya", lanjutnya panjang lebar.
Kami hanya tertunduk malu saat itu, meresapi satu persatu untai kata-nya yang seakan menyadarkan kami atas segala kealfaan diri selama ini. Begitu sering kami melalaikan segala peringatan dar-Nya, yang ia sampaikan dalam lembaran surat-surat cintanya, yang Ia tuangkan dalam mushaf suci-Nya. Kami kadang justru merasa lebih asyik dengan karya-karya sastra para pujangga, yang padahal tak sedikitpun mereka memiliki satu kuasa jika Alloh tak berikan satu bekal dan karunia ilmu kepadanya.
Kadang kemodernan zaman memang begitu tamaknya membentengi diri-diri ini, lalu merengkuh dan menambah keangkuhan daripada diri kita, menganggap kita telah meraih segalanya. Seperti halnya lapisan tembok yang kini melapisi sebagian tanah lapang itu. Indah, namun ternyata begitu sombongnya menerima untaian kuasa-Nya, seperti pula seorang diri yang begitu sulit untuk meyakini tanda-tanda kebesaran Illahi. Padahal, di balik benteng-benteng kemodernan zaman tersebut, jiwa-jiwa kita yang hampa serta gersang masih menantikan guyuran-guyuran kesejukan Islam, yang dapat mengembalikan jiwa-jiwa kita menjadi bagian dari jiwa-jiwa para hamba yang muthmainnah. Hamba-hamba yang Alloh persilakan untuk nanti bersama dengan mereka para ahli ibadah kepada-Nya, hamba-hamba yang Alloh persilakan untuk jika kembali hanya kepada pangkuan-Nya, serta hamba-hamba yang Alloh persilakan untuk dapat menikmati keindahan dalam surga-Nya.
Wallahu'alam bish-shawab.
Oleh Dikdik Andhika Ramdhan

Jangan Meminta-Minta

Oleh Sigit Indriyono

Jam tanganku menunjukkan tepat jam 13.00. Suasana di dalam Masjid Nabawi agak lengang. Usai sholat Dhuhur, sebagian jama’ah telah meninggalkan masjid untuk makan siang. Yang masih bertahan di dalam masjid melanjutkan dengan berbagai aktivitas. Melakukan wirid dengan tasbih di tangan, tilawah Al-Qur’an atau menuju makam Rasulullah SAW dan Raudah.

Waktu antara Dhuhur dan Asar biasanya kumanfaatkan untuk tilawah Al-Qur’an. Jika tidak, aku mengikuti antrian ke Raudah. Salah satu tempat yang utama untuk berdo’a. Al-Qur’an ukuran saku selalu berada dalam tas warna hijau yang selalu kuselempangkan di bahu. Tas serbaguna yang juga berisi buku-buku do’a dan buku panduan haji, umrah dan ziarah. Buku-buku berukuran saku tersebut diterbitkan oleh Kementrian Agama Saudi Arabia, namun berbahasa Indonesia. Dibagikan secara gratis oleh petugas di bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Aku duduk dekat tiang masjid. Cukup sejuk, karena dari celah-celah lubang yang terdapat di bagian bawah tiang masjid keluar udara yang berasal dari alat penyejuk udara. Sebelum berangkat ke masjid, aku sempat makan siang dulu. Selama di Madinah, jama’ah haji Indonesia mendapat pembagian jatah makan dua kali, yaitu makan siang dan malam.

Saat aku sedang akan membuka Al-Qur’an, tiba-tiba datang seorang pemuda menghampiriku. Masih muda, sekitar 25 tahun umurnya dan penampilannya cukup rapi. Dari wajahnya kuperkirakan berasal dari negara Asia Selatan. ” Assalamu ‘alaikum, ” sapanya sambil menjabat tanganku. ” Wa ‘alaikum salam, ” kujawab salamnya.

Kemudian dia menyerahkan secarik kertas kecil ber-laminating. Kubaca isinya: “ Saya orang miskin. Mohon kerelaan sedekah untuk saya.” Ternyata orang ini tahu kalau aku adalah orang Indonesia. Mungkin dia memperhatikan tas selempang warna hijau yang bertulisan ‘Indonesia’. Tas pembagian yang selalu kupakai ke mana-mana selama berada di Saudi Arabia.

Tanpa berpikir panjang, kuambil satu lembar uang 10 riyal dari dompet. Kuserahkan kepada orang itu. Setelah mengangguk dan tersenyum sambil mengucapkan: “ Syukron....” orang itu segera berlalu menjauh ke tempat lain. Kurelakan sedekah kepadanya.

Aku teringat pada seorang warga negara Bangladesh. Dia bekerja sebagai petugas cleaning service di pemondokan haji yang kutempati di Madinah. Orangnya rajin dan sangat cekatan. Saat di Makkah, aku juga sempat berbincang dengan seorang pemuda berasal dari Sukabumi. Sudah hampir setahun tinggal di Saudi Arabia. Umurnya 24 tahun. Bekerja sebagai cleaning service di Abraj Al-Bait Shopping Center yang berlokasi di depan Masjidil Haram. Mereka mau bekerja dan tidak mau meminta-minta kepada orang lain. Berbeda dengan orang yang meminta sedekah kepadaku di dalam Masjid Nabawi.

Profesi apapun yang mendatangkan rezeki halal adalah mulia. Umat Islam dianjurkan untuk bekerja, dan bukan meminta-minta. Rasulullah SAW adalah seorang pedagang. Rasulullah SAW sangat menekankan keutamaan bekerja, seperti tersirat dalam sabda beliau: ''Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja. Dan barangsiapa yang bekerja keras untuk keluarganya, maka ia seperti pejuang di jalan Allah Azza wa Jalla.'' (HR Ahmad).

Dalam realitas saat ini, banyak orang yang enggan bekerja pada tempat yang menurutnya kurang pas buat dirinya, karena itu mereka lebih memilih menganggur. Akhirnya menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain. Bagi orang-orang yang menganggur, berkhayal dan berangan-angan merupakan kesibukan sehari-hari. Ngobrol ke sana-sini yang tidak bermanfaat banyak dilakukan oleh mereka. Tak jarang mereka terjerumus dalam tindak kriminal yang meresahkan masyarakat.

Bekerja atau bahkan menciptakan lapangan kerja, jika dilakukan dengan ikhlas mencari ridho Allah SWT akan bernilai ibadah. Namun perlu diingat, orang yang bekerja dalam kondisi sesibuk apapun tidak boleh melalaikan perintah-perintah-Nya. ” laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sholat, dan (dari) membayarkan zakat”. (QS An Nuur [24]: 37).


Rabu, 06/02/2008 09:52 WIB

Nasib Uang Receh

Nasib Uang Receh

6 Peb 08 09:52 WIB

Kirim teman

Oleh Abumiftah

Meski harus memilih membiarkannya tergeletak di sembarang tempat. Uang receh selalu bernasib kurang beruntung. Ia selalu dibiarkan berada disetiap sudut ruang bahkan sepanjang jalan protokol, dibiarkan terlindas kendaraan penguna jalan. Lucunya di sejumlah swalayan, uang receh menjadi alternatif uang kembalian. Jika tidak ada uang receh, kasir memberikan kepada costumer dengan sejumlah permen. Itupun terkadang sudah tak layak untuk di konsumsi. Ironis memang, tapi itulah uang receh.

Tapi lain hal dengan masyarakat kecil yang biasa berjuang hidup dipinggiran kota. Uang receh ternyata sangat bermanfaat. Terlebih ketika ia menjajakan diri (pengemis) di sepanjang jalan Ibu kota. Dan bagi ’si pak ogah’ atau jasa parkir, uang receh selalu ditunggu di setiap sudut gang.

Sekilas ketika bicara uang receh, seperti mengungkapkan makna kosong tanpa isi. Padahal jika kita menyisihkan waktu sejenak untuk mendengar atau merenung. Kenapa manusia menciptakan uang tersebut? Tanpa uang receh, uang senilai miliaran rupiah mungkin tak akan pernah ada di permukaan.

Paradigma berfikir tentang uang receh sudah seharusnya diubah. Uang receh kini bukan lagi menjadi aikon uang sisa yang tercecer tapi uang yang sangat bermanfaat. Dengan meletakkan atau memasukan uang receh dalam tempat khusus (celengan) pastinya banyak manfaatnya. Pekerjaan ini memang pekerjaan kecil. Tapi sulit untuk memulainya.

Kita termasuk enggan belajar dari metologi si miskin. Mereka lebih percaya, memasukan uang receh pada celengan berbentuk bambu atau terbuat tanah liat. Sedikit demi sedikit akan bermanfaat nantinya. Memang kita termasuk orang yang tidak bisa menabung di celengan, juga malas (gengsi) menggunakan uang receh.

Kita dapat memulai hari ini. Dengan memasukan uang receh ke dalam celengan pastinya akan bermanfaat. Kita tak usah ragu lagi, uang receh yang terkumpul akan dimanfaatkan oleh teman-teman kita yang membutuhkan. Sejenak kita tinggalkan kesenangan dunia. Beri harapan si miskin, walau hanya sisa uang belanja atau ongkos. Semoga Allah SWT akan melipatgandakan pahala kita. Amin