oleh Dikdik Andhika Ramdhan
Selalu Ada Harapan untuk Mereka
"Mie rebus-nya dua mas, pake telor", ujar temanku malam itu kepada seorang lelaki yang sedang berdiri di depan gerobak tuanya.
Kemudian kami duduk sambil menunggu mie selesai direbus. Malam memang sudah agak larut. Tapi tak ada gemerlap bintang malam ini. Langit semakin kelam saja. Sesekali hujan masih mengguyur bergantian dengan mendung, berulang-ulang sejak siang tadi. Dua buah balok kayu disulap menjadi dua buah bangku panjang yang memang tidak begitu nyaman untuk kami duduki, namun dalam suasana dan keadaan seperti ini tentunya jika memilih berjongkok dipinggir jalan, tentunya ini jauh lebih baik.
Sampai hari ini musim penghujan belum juga usai. Bahkan yang lebih gak jelas, kini cuaca sudah benar-benar sulit untuk diprediksi, sebentar hujan sebentar panas. Dan ternyata memang benar, sesaat kemudian hujan gerimis kembali mengguyur salah satu pojok di kota metropolitan ini.
Dari kejauhan seorang wanita menggendong anaknya setengah berlari menuju ke arah kami. Bajunya sudah agak basah, tangan kirinya bersusah payah menggendong anaknya, semetara tangan kanannya menjinjing sebuah kantong plastik berwarna hitam. Hingga akhirnya iapun sampai dan bernaung di bawah tenda yang sebagian tendanya sudah tidak lagi utuh sempurna, tenda yang kini kamipun berada dibawahnya.
"Tadi ada baju bagus mas, warnanya merah ati, ada bunga-bunga dibagian pinggangnya. Cocok banget buat anak kita, ...", ujarnya sumringah pada lelaki tadi yang ternyata suaminya itu, namun sesaat kemudian ia terhenti tak melanjutkan ceritanya.
Mendengar itu suaminya hanya tersenyum. Seakan menenangkan hati isterinya untuk bersabar. Dalam kondisi seperti ini memang bukan hal gampang mengais rezeki bagi mereka yang menggantungkan usahanya dijalanan seperti mereka. Bukan yang berada di dalam sebuah gedung bertingkat yang lengkap dengan kursi nyaman, seperangkat komputer serta pendingin ruangan. Mereka yang berada di jalanan harus bersaing dengan panas dan hujan yang tidak pernah disangka-sanngka kedatangannya. Kadang mereka harus gulung tikar menyelamatkan dagangannya ketika hujan sudah begitu amat derasnya.
Sesaat aku menoleh ke arah mereka. Kulit-kulit keriput menghiasi wajah mereka. Kilatan cahaya lampu petromax tergambar jelas di antara keringat yang menjulur di sekitar kulit lengannya. Lekukan-lekukan tulang begitu sempurna meliuk hampir pada setiap sisi tubuhnya. Baju yang lusuh masih melekat ditubuhnya yang kini menggigil dalam kedinginan dan guyuran air hujan.
Namun, yang membuat aku kagum dari mereka adalah meskipun dalam kondisi demikian, selalu hadir adanya rasa ingin memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Seperti yang baru saja diutarakan wanita itu pada suaminya. Mungkin andaikan ada rezeki, jatah untuk diri mereka sendiri akan jauh berada di urutan kesekian puluh daripadanya. Yang mereka utamakan tentunya untuk mereka buah hatinya. Subhanalloh...
Mereka sudah tidak lagi memperhatikan bagaimana kesehatan mereka, bagaimana kondisi tubuh mereka, apalagi bagaimana dengan penampilan mereka. Yang terpenting bagi mereka hanyalah satu, yaitu bagaimana anak-anaknya mampu tumbuh dan menjadi seorang yang akan mampu ia banggakan satu saat nanti di kemudian hari.
Jika itu telah tercapai, maka seluruh perjuangan dan penderitaannya seakan luluh lantah berganti sejuta nuansa bangga dan bahagia. Meskipun ternyata dalam perjalanannya tidak semuanya semulus demikian, tidak sedikit yang membuat kita miris, ketika banyaknya mereka anak-anak yang justru tidak menyadari akan hal ini, hingga akhirnya mereka yang dulu dimanjakan dengan sejuta kasih sayang dari orang tuanya, namun justru ketika dewasa mereka seakan melupakan segala jasa dari mereka orang tuanya. Na'udzubillah
Hari berselang, waktu sudah berlalu...
Hari ini, aku menemukan kembali wanita itu. Kondisinya memang sudah berbeda. Kini panas matahari sudah kembali memanggang suasana kota, bukan lagi hujan yang mengguyur di tengah petala. Sebuah gerobak tua masih setia menemani perjalanan panjang kisah kehidupan mereka. Dekat di samping kanannya seorang gadis kecil berlari-lari, alhamdulillah baju merah ati dengan bunga-bunga dipinggangnya kini sudah melekat ditubuh kecilnya itu. Ia sang buah hati kini melompat-lompat dan tertawa riang di samping wanita itu. Sementara wanita itu hanya berdiri dan tersenyum memandang puas disebelah suaminya, menikmati kebahagian anak tercintanya.
Cantik, gadis kecil itu begitu cantik dengan baju barunya itu. Ia memang jauh lebih baik dengan kondisi ketika pertama kali kami melihatnya pada malam itu. Ia telah berubah. Hanya mereka yang tidak berubah, mereka yang kini berdiri memandang keceriaan suasana, mereka yang cukup ikhlas serta penuh kesabaran dengan kondisi seperti sekarang ini, mengenakan baju yang pas-pasan, penampilan yang mengenaskan, serta keringat-keringat yang bercucuran. Namun, jauh di dalam palung hati mereka, aku yakin, selalu ada seikat do'a dari mereka, sebuncah harapan untuk putra-putrinya, sebersit bahagia akan kehadiran sukses ia buah hatinya di hari kemudian.
Wallahu'alam bish-shawab.
oleh Dikdik Andhika Ramdhan
Pelajaran dari Sebuah Kematian
Allah telah mengingatkanku pada hari ini. Sungguh aku merasa bersyukur atas kasih sayang yang selalu Dia tunjukkan kepada diriku. Sebuah kejadian yang selalu menjadi pelajaran bagi diriku untuk selalu terus berusaha menjadi hamba-Nya yang baik.
Aku mendengar berita duka itu menjelang jam pulang kantor, sekitar pukul setengah lima sore. "Galih, ayahnya Pak Andi meninggal, mau ikut takziah?" Demikian sebuah informasi disampaikan oleh teman kantorku sembari bertanya kepada diriku apakah akan ikut serta bertakziah. Aku pun mengiyakan ajakan bertakziah tersebut mengingat Pak Andi adalah teman satu section dengan diriku. Bukankah bertakziah merupakan salah satu hak saudara seiman.
Hari jumat, musibah ini pun kembali membawaku ke masa dua tahun yang silam, di mana pada hari jumat ini pula ayahku dipanggil oleh yang Kuasa. Suatu kejadian yang tidak pernah aku duga sebelumnya, ia datang dengan tiba-tiba tanpa ada kabar sebelumnya. Aku terduduk sejenak untuk mengatur nafas yang sedikit sesak sembari megingat kejadian dua tahun silam itu. Aku merasakan sekali apa yang sedang dirasakan oleh Pak Andi dan ini fitrah manusia.
Sekitar pukul setengah enam sore kami pun berangkat menuju rumah duka di daerah Pondok Gede. Aku memperikirakan bahwa perjalanan akan melewati waktu maghrib dan kemungkinan pukul setengah tujuh baru sampai di rumah duka. Benar saja, ketika mobil yang aku tumpangi hendak keluar pintu tol Pondok Gede adzan maghrib pun berkumandang. Suara muadzin pun berkumandang saling bersahutan antara masjid yang satu dengan yang lainnya. Panggilan muadzin pun mengetuk hatiku, memanggil jiwa yang lemah ini untuk segera bersujud. Namun aku tidak bisa menyambut penggilan tersebut dengan segera, mengingat waktu itu aku sedang berada di antara kepadatan kendaraan yang hendak keluar pintu tol. Aku memutuskan untuk shalat maghrib di tempat Pak Andi nanti.
Alhamdulillah perjalanan pun dapat ditempuh dengan lancar. Sekitar pukul setengah tujuh rombongan kantor tiba di rumah duka. Aku melihat sebuah tenda sedang dipasang di depan rumah duka tersebut. Aku kemudian masuk untuk menemui Pak Andi. Di depan pintu rumah rupanya Pak Andi sudah berdiri menyambut rombongan kantor. Aku tidak lupa untuk menyalami beliau sambil mengucapkan rasa belasungkawa. Hanya ucapan turut berduka yang aku sampaikan kepada Pak Andi, tidak lebih. Selebihnya aku hanya memandang sesosok tubuh yang terbujur kaku di atas sebuah ranjang. Tubuhnya tertutup oleh beberapa helai kain.
Aku terus memperhatikan sosok jenazah tersebut, aku perhatikan dengan seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki. Batinku mulai mengajakku berbicara, "Lihatlah sosok menusia itu, terbujur kaku. Inilah akhir dari perjalanan hidup seorang manusia. Kini dia akan segera menghadap Sang Pencipta untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuat selama hidupnya. Bagaimana dengan kamu, Galih? Kamu pun akan seperti itu, segera, dan akan tiba giliranmu."
Aku berdiri dalam diam, mencoba merenungi apa yang dibicarakan oleh batinku. Ya, aku akan seperti itu, segera. Aku tidak tahu apakah aku siap menghadapinya.
Sayup-sayup aku mendengar percakapan atasanku dengan Pak Andi. Dari situ aku mendengar bahwa kematian ayah Pak Andi terjadi dengan tiba-tiba, malah ia sempat melaksanakan shalat jumat. Percakapan itu kembali membuat diriku semakin diam, semakin dihantui rasa takut. Takut akan akhir hayat yang tidak bisa aku duga sedang apa aku ketika ajal menjemput. Suatu akhir yang sangat tidak bisa diramalkan oleh siapapun.
Akhirnya aku keluar dari rumah duka tersebut karena mengingat aku belum melaksanakan shalat maghrib. Aku pun bergegas menuju masjid yang tidak jauh letaknya dari rumah duka tersebut. Bersama tiga orang teman, kami pun melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Dalam sujudku aku berdoa semoga Allah memberikanku akhir yang baik.
Aku teringat dengan sebuah hadits yang menerangkan bahwa manusia itu tergantung akhirnya. Setiap aku bertakziah aku selalu bertanya pada diri sedang apakah aku ketika ajal datang? Sedang dalam ketaatan ataukah sedang bermaksiat? Ya, Allah, aku benar-benar takut, takut akan akhir yang buruk.
Namun, ada hal yang sering membuatku heran dalam setiap bertakziah. Aku sering melihat para pentakziah tertawa dan bercanda di sana satu sama lain. Seolah kematian seseorang merupakan acara komedi yang dapat mengundang sejuta tawa. Ataukah mereka adalah sekelompok orang yang sudah siap dengan segudang amal sehingga tidak terlihat sedikitpun wajah duka? Bukankah Rasulullah pernah mengingatkan para sahabatnya bahwa seandainya menusia itu tahu dasyatnya hari akhir kelak, tentu manusia akan lebih banyak menangis dan sedikit tertawa.
Sekitar pukul delapan akhirnya rombongan kantor berpamitan. Dalam perjalanan pulang kembali aku merenungi diri ini. Akan seperti apa aku ketika ajal menjemput? Apakah sedang berada dalam ketaatan ataukah sedang bermaksiat kepada Allah?
Tambun 14 Maret 2008

